Saran-saran Seputar Kehamilan

Selamat yaa buat Bunda-bunda yang sedang menikmati kehamilan, sedang menunggu kehadiran buah hatinya. Pasti rasanya campur aduk yaa, Bund. Antara bahagia, deg-degan, khawatir dan takut juga mungkin ada yaa menanti proses persalinan. Apalagi buat Bunda-bunda yang kehamilan sama dengan saya, sudah memasuki trimester III.

Saat usia kehamilan sudah memasuki trimester III, banyak hal yang dirasakan dan harus dipersiapkan memang yaa, Bund. Seperti saya yang sudah memasuki usia kehamilan 36 minggu hari ini. Yang pasti perlengkapan untuk menyambut si buah hati sudah harus lengkap nih. Mulai dari pakaian, perlengkapan tidur, perlengkapan mandi, dan produk perawatan untuk si kecil. Jangan lupa persiapan untuk Bundanya juga yaa. Tas untuk di bawa ke rumah sakit jika sewaktu-waktu proses persalinan sudah mulai terasa juga sudah harus ready.

Selain persiapan yang berupa materi, hal yang paling penting lainnya yang harus kita persiapkan untuk menghadapi persalinan pastinya adalah mental. Saya rasa persiapan mental dan fisik untuk menghadapi proses persalinan adalah yang paling penting. Yang pasti nih, Bund, selain saran dan masukan yang kita dapatkan dari konsultasi dengan Dokter atau Bidan, akan banyak sekali saran-saran yang kita terima dari orang-orang di sekitar kita. Akan banyak orang-orang di sekeliling yang memberi saran dan nasehat untuk kita. Mulai dari keluarga, teman, bahkan orang yang tidak sengaja ketemu dan ngobrol pun kadang juga semangat banget ngasih saran. Pastinya karena mereka peduli dan sayang sama kita.

Akan ada banyak sekali saran dan nasehat yang kita dengar. Mulai dari yang sama dengan saran dokter atau bidan, sampai yang sangat jauh berbeda bahkan bertentangan malah kadang. Ini yang sama alami beberapa nih, Bund, dan saya ingin sedikit berbagi cerita dengan Bunda-bunda yang mungkin juga mengalami hal sama.

Saat ini kehamilan saya menginjak usia 36 minggu. Saat kontrol di dokter pada usia kehamilan 30 minggu. Menurut dokter semua baik. Perkembangan bayi juga sangat bagus. Kepala bayi sudah di bawah, beratnya juga sesuai dengan usia kehamilan, lebihsatu minggu malah. Mungkin karena kepala bayi sudah di bawah, dokter baru menyarankan untuk banyak jalan kaki awal bulan Februari aja, saat usia kehamilan sudah pas 8 bulan dan masuk bulan kesembilan. Pastinya saya dan suami sangat senang mendengar keterangan dari Dokter.

Awal bulan februari mau kontrol lagi ternyata dokternya keluar kota sampai tanggal 14 februari. Jadi kontrolnya di tunda dulu. Nah, dari awal bulan februari ini saya mulai banyak dapat saran dari orag-orang di sekeliling. Mulai yang cuma sekedar komen, sampai yang kasih saran panjang lebar. Banyak yang bilang perut saya sudah sangat turun, sudah sangat di bawah, dan katanya sudah seperti orang mau lahiran. Saya agak khawatir juga nih, Bund, dengar komen-komen semacam ini. Apalagi yang ngomong ada keluarga juga dan pastinya oran yang sudah berpengalaman. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak terlalu banyak jalan kaki dulu. Karena agak-agak khawatir juga kalau nanti anak saya kecepatan lahirnya. Secara usia kehamilan baru mau masuk 36 minggu.

Ternyata yang terjadi nih, Bund, setelah dokter langganan saya mulai praktek lagi, dan saya kontrol di pertengahan Februari. Dokter mengatakan kepala bayi saya masih sangat tinggi dan masih jauh dari ruang panggul. Jadi harus lebih banyak lagi jalan kaki. Agak sedikit sedih dan khawatir juga, takut nanti lahirannya tidak lancar. Tidak hanya itu, saya juga ragu dengan jenis kelamin bayi saya karena banyak komentar yang masuk dari orang-orang di sekeliling yang mau tidak mau mempengaruhi saya sedikit banyaknya. Dari usia kehamilan 20 minggu dokter sudah memastikan jenis kelamin bayi saya perempuan. Tapi semakin bertambah usia kehamian, semakin besar penampakan perut saya, semakin banyak orang yang berkomentar katanya kalau dilihat dari bentuk perut saya yang runcing ke depan, sementara di bagian perut samping tetap ramping, jenis kelamin anak saya laki-laki. Saking banyaknya yang berkomentar hal yang sama, akhirnya saya kepikiran juga. Dan pada saat membeli perlengkapan untuk bayi kami, saya memutuskan untuk membeli yang warnanya serba netral. Padahal suami sudah mengingatkan, beli ajalah yang warna cewek, percaya aja sama dokter. Tapi sayanya masih ragu. Hasilnya semua perlengkapan yang kita beli berwarna netral. Hanya ada beberapa baju yang berwarna pink dan ungu karena memang bagus dan akhirnya saya beli.

Pada saat kontrol terakhir dokter memastikan 95% jenis kelamin bayi kami adalah perempuan. Bahkan sambil bercanda dokternya bilang kalau nanti yang lahir bayinya laki-laki kita mau ditraktir makan-makan. Jadi malu sendiri karena secara tidak langsung seolah saya meragukan kredibilitas dokter langganan saya.

Hikmah yang saya dapatkan dari kejadian yang saya alami ini adalah, sebanyak apapun saran dan komentar yang kita terima dari orang terdekat dan orang di sekeliling kita, pada akhirnya tetap saja jangan terlalu percaya dan terpengaruh dengan semua itu. Walau bagaimanapun yang paling paham kondisi dan keadaan kita adalah dokter dan kita sendiri. Jangan terlalu terpengaruh dengan saran-saran dan masukan yang kita dapatkan. Ambil yang baiknya, buang yang hanya akan membuat kita bingung. Harus lebih percaya pada ahlinya (dokter atau bidan langganan) dan yakin dengan kondisi diri sendiri.

Semoga kehamilannya berjalan dengan lancar dan dimudahkan dalam proses persalinan nanti.

 

17 Februari 2017

Advertisements

KESAKSIAN KELOPAK MAWAR HUTAN

Dan ketika subuh itu berada dalam kedamaian tak bertuan,

Kau selalu terbangun dari mimpi-mimpi tak beralasan,

Lalu bersicepat dengan waktu,

Menyibak kerumunan embun pagi yang mungkin akan meremukkan tubuh ringkihmu,

Mendaki punggung bukit yang tak lagi sepantaran dengan usiamu.

Kau tau…???

Semua orang masih terlelap menjemput mimpinya dalam angan tak nyata,

Nyonya-nyonya besar itu masih berpeluk erat dengan suami mereka,

Dan para pelacur itu baru saja menikmati hidup yang baru mereka rengkuh,

Sementara kau…

Harus bergelut dengan dinginnya pagi,

Memunguti kelopak mawar hutan untuk memuaskan cacing-cacing yang selalu berkerontangan dalam perutmu,

Lalu adilkah hidup ini bagimu…???

 

**

Alunan lagu sunyi di subuh itu

selalu membangunkanku dari mimpi-mimpi yang berkesan

Lalu berpacu dengan waktu,

Menyibak kerumunan embun pagi yang menyejukkan tubuh ringkihku,

Bercengkrama dengan punggung bukit yang mematangkanku bersama dengan waktu.

 

Ketika aku melangkah dalam hening subuh itu,

Mungkin saja orang-orang di kota besar – yang tak pernah kutahu pasti namanya –

masih terlelap menjemput mimpi,

Tapi bagiku, ini kenikmatan hidup tak terperi.

 

Bagiku inilah kenikmatan hidup,

Menjadi tua tanpa perlu bergantung pada anak cucu,

Memberi hidup pada hidupku tanpa perlu menunggu,

Mengumpulkan mawar-mawar hutan yang akan menyenangkan cacing-cacing yang kadang berontak dalam perutku,

Dan kembali menunggu pagi,

Untuk kembali berpacu dengan waktu,

Bukankah hidup ini adil padaku…???

 

                                                                        Januari 2011 – September 2014

Perjuangan untukmu, si Buah Hati

Postingan pertama 😊 Sudah lama sih pengen bikin blog, akhirnya baru kesampaian sekarang. Dan ini postingan pertama saya.

Di postingan pertama ini saya ingin berbagi cerita, berbagi pengalaman tentang promil. Tentang perjuangan saya dan suami untuk mendapatkan buah hati. Kebetulan hari ini tepat 33 minggu kehamilan saya.

Untuk saya dan suami, bukan perkara gampang untuk mendapatkan buah hati. Walaupun juga bukan long long story, tapi toh saya tetap ingin berbagi. Semoga ada manfaatnya untuk yang juga sedang berjuang promil dan menunggu hasil terbaik.

Bermula dari pernikahan saya dan suami pada tanggal 12 November 2015, setelah proses pacaran kami yang lumayan lama, hampir 5,5 tahun. Akhirnya kita memantapkan hati untuk menikah. Pastinya kita mengharapkan langsung punya anak, tidak mau menunda lebih lama lagi. Dua hari setelah ijab qabul saya haid. Senang sekali rasanya, karena langsung ketemu masa subur dan berharap bisa langsung hamil. Tapi ternyata bulan Desember haid datang tepat waktu . Ya sudah, kita enjoy aja, toh baru 1 bulan menikah, hitung-hitung menikmati masa-masa berdua dulu.

Bulan Januari dan Februari juga si haid ini datang tepat waktu, tidak telat seharipun. Suami masih santai aja. Sayanya yang sudah mulai ketar-ketir. Selain karena memang berharap sekali bisa langsung punya anak, pertanyaan dari kanan-kiri juga sudah mulai mengusik. Apalagi teman yang menikah bulan Desember sudah hamil 2 bulan.

Akhirnya di bulan ke-3 pernikahan ini saya mulai cari-cari informasi seputar promil atau program hamil. Sebelumnya sudah banyak yang menyarankan promil susu pra-kehamilan + vitamin E + asam folat. Tapi saya belum berani mencoba karena takut ada efek sampingnya. Di bulan ke3 pernikahan ini saya memberanikan diri untuk mulai mencoba mengkonsumsi susu pra-kehamilan + vitamin E + asam folat ini. Dengan semangat yang menggebu-gebu.

Ternyata bulan Maret dan April haid masih saja datang tepat waktu. Mau tidak mau pikiran macam-macam mulai berdatangan. Secara sudah bulan ke-5 pernikahan dan sahabat saya yang menikah bulan Maret juga sudah langsung hamil. Perasaan sudah mulai tidak karuan. Apalagi di saat melihat media sosial, ada postingan teman-teman soal kehamilannya, saya jadi suka sedih sendiri. Kadang juga sampai menangis sendiri. Sampai timbul pikiran “Kok teman-teman langsung dikasih hamil ya, sementara saya tidak. Mereka yang kisah cintanya kelihatan mulus, perjuangan untuk hamilnya juga kelihatan mulus tanpa hambatan. Padahal kita yang pacaran 5 tahun lebih, dengan perjuangan yg tidak gampang untuk sampai ke jenjang pernikahan, malah untuk hamil aja juga susah banget.” Saya sampai punya pikiran sejauh itu. Rasanya tidak adil, dan suka iri melihat teman-teman yang sudah mendapat kepercayaan untuk hamil. Akhirnya suami melarang sering-sering buka sosial media dan terus mensupport untuk promil lagi.

Bulan April saya lanjut lagi promilnya. Dan akhirnya bulan mei, bisa merasakan yang namanya “telat”. Saking antusiasnya, baru telat dua hari saya sudah langsung testpack, dan hasilnya garis dua, tapi satu lagi masih samar. Senangnya luar biasa, dan saya langsung mengurangi kegiatan untuk menjaga kehamilan yang sudah lama ditunggu-tunggu ini. Tapi ternyata Yang Di Atas punya rencana lain. Saya merasakan hamil ini cuma sampai telat 12 hari saja. Setelah beberapa kali flek, dua kali cek ke bidan, di kasih obat penguat, tapi ternyata di hari ke-12 telat, darah keluar banyak sekali dan perut sakit luar biasa. Akhirnya langsung ke bidan lagi, dan bidan bilang janinnya sudah keluar dan dikasih obat peluruh agar semuanya keluar. Mungkin seperti inilah rasanya yang diistilahkan orang dengan “seakan langit runtuh”. Benar-benar sedih dan terpuruk luar biasa. Bukan hanya bersedih untuk diri saya sendiri, karena kehamilan yang sudah ditunggu berbulan-bulan ternyata hanya bisa merasakannya sebentar saja. Tapi justru saya lebih sedih kalau mengingat orang-orang tersayang di sekeliling saya yang sudah sangat berharap. Di keluarga saya, ini baru cucu pertama, sementara di keluarga suami, cucu kedua. Dalam pikiran saya saat itu, saya sudah sangat mengecewakan suami, yang sangat mengharapkan kehadiran anak, orangtua dan mertua serta keluarga lainnya yang sudah sangat berharap cucu dari rahim saya. Pemikiran ini membuat saya sangat terpuruk, dan sampai menangis berhari-hari. Bahkan selama beberapa hari setelah itu saya sama sekali tidak berani menonton televisi, karena setiap melihat iklan yang ada anak bayinya, saya akan langsung menangis. Beruntung saya punya suami dan keluarga yang selalu bisa mensupport dan membesarkan hati saya. Terima kasih untuk suami saya yang sudah begitu mengerti dan sangat bisa menghibur, walaupun dalam hatinya saya tahu dia juga sangat sedih, tapi sekalipun tidak pernah menunjukkannya di depan saya.

Setelah darahnya berhenti kira-kira 1 mingguan kemudian, ditemani suami saya cek ke Spog. Dokter melakukan pemeriksaan usg, dan rahim saya dinyatakan sudah bersih dan sehat, tidak ada masalah apapun. Semangat untuk lanjut promil lagi. Tapi ternyata saya mulai ogah-ogahan untuk minum susu pra-kehamilan + vitamin E + asam folatnya. Mungkin karena masih sedih dan masih agak down.

Bulan Juni, beberapa hari di awal ramadhan, saya sudah haid lagi. Akhirnya disini saya dan suami berdiskusi. Berbicara dari hati ke hati, mengeluarkan apa yang kita rasakan. Akhirnya, sampailah kita pada kesimpulan yang sama. Mungkin Allah belum percaya kepada kita, makanya kita masih belum diberi kepercayaan untuk jadi orang tua. Dan kehilangan kita yang sebelumnya mungkin berupa teguran. Karena selama ini kita terlalu berharap, dan seakan lupa bahwa kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Untuk hasilnya sama sekali bukan kuasa kita. Kita ditegur karena merasa hidup tidak adil. Karena sempat merasa iri terhadap apa yang diperoleh orang lain, sementara kita lupa mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan. Akhirnya kita sama-sama membulatkan tekat untuk memperbaiki diri terus menerus. Kita berusaha, dan hasilnya, apapun itu kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Cukup memperbaiki diri, berusaha dan berdoa. Untuk hasil, kita syukuri apapun itu.

Di bulan ramadhan, bulan ke-7 pernikahan kita, saya mulai lanjut lagi minum susu pra-kehamilan + vitamin E + asam folat, dan suami juga mulai mengurangi rokok. Tapi karena puasa, kadang saya jadi malas minum vitaminnya, bahkan minum susu juga kadang malas. Jadi saya minum semau dan seingatnya saja, tidak rutin seperti biasa. Di bulan puasa ini, saya pernah membaca tulisan dan juga mendengar tausyiah, kalau ternyata ada waktu-waktu yang mustajab untuk kita berdoa. Seandainya kita berdoa di waktu-waktu ini, insyaallah doa kita tidak akan di tolak. Salah satunya adalah berdoa setelah berbuka puasa. Ini yang berusaha saya amalkan dari semenjak selesai haid di awal ramadhan sampai ramadhan terakhir. Setiap selesai membatalkan puasa, saya selalu berdoa agar diberi kepercayaan untuk jadi orang tua.

Akhirnya ramadhan berakhir. Dengan segala kesibukan dan kerepotan lebaran, saya sampai lupa kalau seharusnya sudah haid, tapi masih belum datang juga. Saya dan suami sudah balik ke rutinitas biasa lagi, sudah sama-sama mulai kerja lagi. Akhirnya suami yang mengingatkan, kok saya belum haid juga. Tapi saya tidak mau testpack dlu, karena takut kecewa. Tapi tetap di jaga makan dan mengurangi aktifitas naik motor dulu. Setelah telat 12 hari, akhirnya testpack, dan ternyata positif. Alhamdulillah. Kita tunggu telat satu siklus, 28 hari, baru kita cek ke dokter, dan alhamdulillah hasilnya baik. Perkembangan janin juga bagus, dan hari ini sudah menginjak 33 minggu usia kehamilan. Tentunya dengan segala cerita dan perjuangannya juga. Saya akan cerita lain waktu yaa. 😁

Ternyata benar kata orang, kita tidak boleh terlalu berharap. Boleh berusaha dengan keras, boleh berdoa sebanyak kita sanggup, tapi jangan lupa bahwa hasilnya tetap di luar kuasa kita. Ketika kita sudah berusaha dan berdoa, hasilnya serahkan saja pada yang di atas. Karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Dia akan memberikan apa yang terbaik untuk kita di saat dan di waktu yang tepat. Sampai saat itu datang, tugas kita adalah berusaha, berdoa, dan memperbaiki diri agar kita layak pada saat waktunya tiba nanti. Jangan pernah merasa hidup atau takdir ini tidak adil. Sedih boleh, tapi jangan sampai ada rasa iri atas apa yang orang lain dapatkan.

Syukuri apa yang sudah kita peroleh, apa yang sudah kita dapatkan. Karena mungkin apa yang sudah kita dapatkan hari ini, tanpa kita sadari adalah apa yang orang lain inginkan. ^^